Senin, 19 September 2016

Media Lama dan Media Baru (15 September 2016)



Kelas Kapita Selekta untuk tanggal 15 September 2016 kedatangan seorang wartawan yang sudah bekerja selama 32 tahun di Kompas, ia adalah Irwan Julianto. Beliau adalah lulusan dari Harvard University dan Irwan Julianto memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di universitas tertua di Amerika Serikat tersebut karena mendapatkan beasiswa.


Pak Irwan pada siang itu membuka perkuliahan dengan memberikan cerita tentang hate speech yang menyebabkan pertikaian yang terjadi di Tanjung Balai. Akibat adanya hate speech dalam Facebook, tragedi pembakaran tempat ibadah pun terjadi di Tanjung Balai. Ironisnya hate speech tersebut bukan berasal dari masyarakat Tanjung Balai sendiri namun dari daerah lain. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa media sosial adalah sebuah jaringan yang begitu luas dan tidak mengenal perbedaan ruang dan waktu. Contoh ini adalah salah satu bentuk efek yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial dalam aspek negatif.
Setelah memberi contoh tersebut, Pak Irwan pun mengajak kami kembali pada sejarah awal sebelum memasuki era media baru. 

Johannes Gutenberg dianggap sebagai pembuka pintu era media lama karena ia adalah pencipta mesin cetak pertama kali di dunia pada tahun 1455. Berkatnya, orang-orang tidak perlu membuang banyak waktu memahat untuk membuat sebuah tulisan. Penemuannya telah membawa kehidupan baru bagi orang-orang karena dapat mencetak tulisan dalam jumlah banyak dan hanya dalam waktu yang singkat.
Di negara Eropa, sebelum munculnya mesin cetak, Paus adalah pemegang kekuasaan tertinggi karena dianggap sebagai utusan langsung dari Tuhan. Hanya Paus dan petinggi gereja saja yang dapat menafsirkan tentang arti Kitab Suci. Sehingga apapun yang dikatakan Paus dan para petinggi dianggap perintah langsung dari Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, Paus dan para petinggi gereja dianggap menyimpang dari ajaran Kitab Suci namun tidak ada yang dapat memberikan pendapatnya. Setelah kemunculan mesin cetak Gutenberg, orang-orang pun secara bebas mencetak Kitab Suci dan menafsirkannya secara pribadi. Hal ini menyebabkan Kitab Suci tidak lagi sakral dan muncul pemberontak seperti Martin Luther yang tidak menerima dengan perlakuan Gereja Katolik saat itu. Pemberontakan tersebut adalah bentuk dari revolusi yang memunculkan komunikasi massa.


Komunikasi massa terdiri atas dua media yaitu media lama dan baru. Media lama yaitu koran, buku, majalah, televisi, radio dan film. Sedangkan media baru terdiri atas media apapun yang basisnya adalah internet (teknologi digital).
Ketika Johannes Gutenberg dijadikan penanda lahirnya media lama, maka penemuan world wide web pada tahun 1991 dianggap sebagai penanda munculnya media baru.


Pak Irwan pun membuat sebuah tabel yang menunjukkan perbedaan signifikan antara media lama dan media baru seperti berikut ini:
Jenis Komunikasi
Analog
Digital
Intrapersonal
Buku diary
Personal data assistant
Interpersonal
Surat
e-mail
Small group
Permainan papan
Multiuser video game
Large group
Classroom
Telecourse
Mass media
Koran
Koran online

Karakterisik media baru:
1.       Berhubungan dengan teknologi digital dan internet
2.       Dulu one to many kini menjadi many to many (penyebaran informasi)
3.       Media sosial = wujud new media
Salah satu kekuatan media baru yang terkuat adalah mampu menggulingkan kekuasaan seorang presiden seperti yang terjadi pada presiden Nixon yang merupakan presiden ke-37 Amerika Serikat. Kasus skandal yang ia lakukan telah membuatnya dipaksa melepaskan jabatannya oleh masyarakat. Skandal yang ia lakukan diungkap oleh dua orang jurnalis yang berasal dari The Washington Post. Hal serupa pun pernah terjadi pada mantan presiden Arab, Hosni Mubarak, yang harus kehilangan jabatannya sebagai presiden akibat kekuatan Facebook. 
Media baru memiliki kekuatan yang besar dan dapat menyebabkan efek positif maupun efek negatif. Untuk efek positifnya yang paling jelas adalah kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi apapun. Masyarakat pun dapat terhubung dengan satu sama lain dengan lebih mudah tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Efektivitas dan efisiensi adalah faktor-faktor yang ditawarkan oleh media baru. Hal ini pun menyebabkan ancaman bagi media lama seperti koran, majalah dan lainnya. 
Banyak generasi muda mulai meninggalkan media cetak karena lebih nyaman menggunakan media sosial. Profesi jurnalis pun menurun akibat hal ini. Di Amerika Serikat, profesi jurnalis menurun drastis sejak kemunculkan media baru. Namun meski begitu, keberadaan koran akan tetap bertahan walaupun terkena tantangan seperti ini. Karena koran memiliki fungsi sebagai clearing house yang artinya merupakan penjelas berita online yang seringkali hanya sepotong-sepotong. Meski berita-berita yanydisajikan oleh berita online mudah untuk diakses, namun seringkali berita yang disajikan pendek-pendek dan terkadang tidak lengkap. Maka itu fungsi koran sangat diperlukan untuk memperjelas segala informasi yang ambigu.

Berdasarkan perkuliahan yang diberikan oleh Pak Irwan, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa di era media baru ini, sebagai penggunanya kita harus menjadi pribadi yang kritis dan pandai dalam memilah media yang digunakan. Penggunaan media baru juga harus dilakukan secara bijak terutama dalam menyampaikan pendapat karena bila tidak dapat menyebabkan perpecahan seperti contoh pertama yang diberikan oleh Pak Irwan. Media sosial harusnya memudahkan masyarakat bukannya malah menjadi alat perpecahan antara masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar