Kelas
Kapita Selekta untuk tanggal 15 September 2016 kedatangan seorang wartawan yang
sudah bekerja selama 32 tahun di Kompas, ia adalah Irwan Julianto. Beliau adalah
lulusan dari Harvard University dan Irwan Julianto memiliki kesempatan untuk
mengenyam pendidikan di universitas
tertua di Amerika Serikat tersebut karena mendapatkan beasiswa.
Pak
Irwan pada siang itu membuka perkuliahan dengan memberikan cerita tentang hate speech yang menyebabkan pertikaian
yang terjadi di Tanjung Balai. Akibat adanya hate speech dalam Facebook, tragedi
pembakaran tempat ibadah pun terjadi di Tanjung Balai. Ironisnya hate speech tersebut bukan berasal dari masyarakat
Tanjung Balai sendiri namun dari daerah lain. Kejadian tersebut menunjukkan
bahwa media sosial adalah sebuah jaringan yang begitu luas dan tidak mengenal
perbedaan ruang dan waktu. Contoh ini adalah salah satu bentuk efek yang
ditimbulkan dari penggunaan media sosial dalam aspek negatif.
Setelah
memberi contoh tersebut, Pak Irwan pun mengajak kami kembali pada sejarah awal
sebelum memasuki era media baru.
Di
negara Eropa, sebelum munculnya mesin cetak, Paus adalah pemegang kekuasaan
tertinggi karena dianggap sebagai utusan langsung dari Tuhan. Hanya Paus dan
petinggi gereja saja yang dapat menafsirkan tentang arti Kitab Suci. Sehingga apapun
yang dikatakan Paus dan para petinggi dianggap perintah langsung dari Tuhan. Namun
seiring berjalannya waktu, Paus dan para petinggi gereja dianggap menyimpang
dari ajaran Kitab Suci namun tidak ada yang dapat memberikan pendapatnya. Setelah
kemunculan mesin cetak Gutenberg, orang-orang pun secara bebas mencetak Kitab
Suci dan menafsirkannya secara pribadi. Hal ini menyebabkan Kitab Suci tidak lagi
sakral dan muncul pemberontak seperti Martin Luther yang tidak menerima dengan
perlakuan Gereja Katolik saat itu. Pemberontakan tersebut adalah bentuk dari
revolusi yang memunculkan komunikasi massa.
Komunikasi
massa terdiri atas dua media yaitu media lama dan baru. Media lama yaitu koran,
buku, majalah, televisi, radio dan film. Sedangkan media baru terdiri atas
media apapun yang basisnya adalah internet (teknologi digital).
Ketika
Johannes Gutenberg dijadikan penanda lahirnya media lama, maka penemuan world wide web pada tahun 1991 dianggap
sebagai penanda munculnya media baru.
Pak
Irwan pun membuat sebuah tabel yang menunjukkan perbedaan signifikan antara
media lama dan media baru seperti berikut ini:
Jenis
Komunikasi
|
Analog
|
Digital
|
Intrapersonal
|
Buku diary
|
Personal data assistant
|
Interpersonal
|
Surat
|
e-mail
|
Small group
|
Permainan
papan
|
Multiuser video game
|
Large group
|
Classroom
|
Telecourse
|
Mass media
|
Koran
|
Koran online
|
Karakterisik
media baru:
1.
Berhubungan dengan
teknologi digital dan internet
2.
Dulu one to many kini menjadi many to many (penyebaran informasi)
3.
Media sosial =
wujud new media
Salah
satu kekuatan media baru yang terkuat adalah mampu menggulingkan kekuasaan
seorang presiden seperti yang terjadi pada presiden Nixon yang merupakan
presiden ke-37 Amerika Serikat. Kasus skandal yang ia lakukan telah membuatnya
dipaksa melepaskan jabatannya oleh masyarakat. Skandal yang ia lakukan diungkap
oleh dua orang jurnalis yang berasal dari The
Washington Post. Hal serupa pun pernah terjadi pada mantan presiden Arab,
Hosni Mubarak, yang harus kehilangan jabatannya sebagai presiden akibat kekuatan
Facebook.
Media
baru memiliki kekuatan yang besar dan dapat menyebabkan efek positif maupun
efek negatif. Untuk efek positifnya yang paling jelas adalah kemudahan
masyarakat dalam mengakses informasi apapun. Masyarakat pun dapat terhubung
dengan satu sama lain dengan lebih mudah tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Efektivitas
dan efisiensi adalah faktor-faktor yang ditawarkan oleh media baru. Hal ini pun
menyebabkan ancaman bagi media lama seperti koran, majalah dan lainnya.
Banyak
generasi muda mulai meninggalkan media cetak karena lebih nyaman menggunakan
media sosial. Profesi jurnalis pun menurun akibat hal ini. Di Amerika Serikat,
profesi jurnalis menurun drastis sejak kemunculkan media baru. Namun meski
begitu, keberadaan koran akan tetap bertahan walaupun terkena tantangan seperti
ini. Karena koran memiliki fungsi sebagai clearing
house yang artinya merupakan penjelas berita online yang seringkali hanya sepotong-sepotong. Meski berita-berita
yanydisajikan oleh berita online mudah
untuk diakses, namun seringkali berita yang disajikan pendek-pendek dan
terkadang tidak lengkap. Maka itu fungsi koran sangat diperlukan untuk
memperjelas segala informasi yang ambigu.
Berdasarkan
perkuliahan yang diberikan oleh Pak Irwan, kelompok kami mengambil kesimpulan
bahwa di era media baru ini, sebagai penggunanya kita harus menjadi pribadi
yang kritis dan pandai dalam memilah media yang digunakan. Penggunaan media
baru juga harus dilakukan secara bijak terutama dalam menyampaikan pendapat
karena bila tidak dapat menyebabkan perpecahan seperti contoh pertama yang
diberikan oleh Pak Irwan. Media sosial harusnya memudahkan masyarakat bukannya
malah menjadi alat perpecahan antara masyarakat.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar